Terjemahan

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

Nasehat Nenek


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,

“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

kedua:

dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.


ketiga:
pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.


keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan. / Islamic motivation

Minggu, 23 Juni 2013

Saleh Dan Malu


Oleh : Mohamad Sobary


ngajiBeruntung, saya pernah mengenal tiga orang saleh. Ketiganya tinggal di daerah yang berbeda, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis kesalehan mereka pun berbeda.
Saleh pertama di Klender, orang Betawi campuran Arab. Ia saleh, semata karena namanya. Orang menyukainya karena ia aktif siskamling meskipun bukan pada malam-malam gilirannya.
Orang kedua, Haji Saleh Habib Farisi, orang Jawa. Agak aneh memang, Habib Farisi sebuah nama Jawa. Tapi ia saleh dalam arti sebenarnya. Minimal kata para anggota jamaah masjid
kampung itu.
Jenggotnya panjang. Pici putihnya tak pernah lepas. Begitu juga sarung plekat abu-abu itu. Tutur katanya lembut, seperti Mas Danarto. Ia cekatan memberi senyum kepada orang
lain. Alasannya: “senyum itu sedekah”.
Kepada anak kecil, ia sayang. Hobinya mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat salat jamaah berlangsung. Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak tak lagi
bikin gaduh. Tapi bocah tetap bocah. Biar seribu kali kepala diusap, ribut tetap jalan. Seolah mereka khusus dilahirkan buat bikin ribut di masjid.
“Ramai itu baik saja,” katanya sabar, (ketika orang-orang lain pada marah), “karena ramai tanda kehidupan,” katanya lagi. “Lagi pula, kita harus bisa salat khusyuk dalam
keramaian itu.”
Mungkin ia benar. Buktinya ia betah berjam-jam zikir di masjid. Sering salatnya sambung-menyambung tanpa terputus kegiatan lain. Selesai magrib, ia tetap berzikir sambil
kepalanya terangguk-angguk hingga isya tiba.
Jauh malam, ketika semua orang masih lelap dalam mimpi masing-masing, ia sudah mulai salat malam. Kemudian zikir panjang sampai subuh tiba.
Selesai subuh, ia zikir lagi, mengulang-ulang asmaul husna dan beberapa ayat pilihan sampai terbit matahari, ketika salat duha kemudian ia lakukan. Pendeknya, ia penghuni
masjid.
Tidurnya cuma sedikit. Sehabis isya, ia tidur sekitar dua jam. Kemudian, selesai salat duha, tidur lagi satu jam. Selebihnya zikir, zikir, zikir…. Pas betul dengan nama-nama yang disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib (nama sufi besar), ditambah Farisi (salah seorang sahabat Nabi).
Kalau kita sulit menemui pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui orang Jawa ini karena ibadahnya di masjid begitu padat.
Para tetangga menaruh hormat padanya. Banyak pula yang menjadikannya semacam idola. Namun, ia pun punya kekurangan. Ada dua macam cacat utamanya. Pertama, kalau dalam salat jamaah tak ditunjuk jadi imam, ia tersinggung. Kedua, kalau orang tak sering “sowan” ke rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap orang itu telah mengingkari eksistensinya
sebagai orang yang ada di “depan”.
“Apakah ia dengan demikian aktif di masjid karena ingin menjadi tokoh?” Hanya Tuhan dan ia yang tahu. Pernah saya berdialog dengannya, setelah begitu gigih menanti zikirnya yang panjang itu selesai. Saya katakan bahwa kelak bila punya waktu banyak, saya ingin selalu zikir di masjid seperti dia. Saya tahu, kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu.
“Ya kalau sempat pensiun,” komentarnya.
“Maksud Pak Haji?”
“Memangnya kita tahu berapa panjang usia kita? Memangnya kita tahu kita bakal mencapai usia pensiun?”
“Ya, ya. Benar, Pak Haji,” saya merasa terpojok
“Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?”
“Benar, Pak Haji. Orang memang sibuk mengejar dunia.”
“Itulah. Cari neraka saja mereka. Maka, tak bosan-bosan saya
ulang nasihat bahwa orang harus salat sebelum disalatkan.”
Mungkin tak ada yang salah dalam sikap Pak Haji Saleh. Tapi kalau saya takut, sebabnya kira-kira karena ia terlalu menggarisbawahi “ancaman”.
Saya membandingkannya dengan orang saleh ketiga. Ia juga haji, pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. Namanya bukan Saleh melainkan Sanip. Haji
Sanip, orang Betawi asli.
Meskipun ibadahnya (di masjid) tak seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa salatnya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun), ia bilang bahwa ia tak ingin minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah.
“Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?”
“Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya memalukan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyadong berkah-Nya, tanpa pernah memberi.
Allah memang mahapemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?” katanya lagi.
Bergetar saya. Untuk pertama kalinya saya merasa malu hari itu. Seribu malaikat, nabi-nabi, para wali, dan orang-orang suci –langsung di bawah komando Allah– seperti serentak
mengamini ucapan orang Betawi ini.
“Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita.
Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan
berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus menyembah, seperti tekad Al Adawiah itu,” katanya lagi.
Napas saya sesak. Saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan iman. Kepada saya, Kong Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin. Tampak disana, wajah saya retak-retak. Saya malu melihat diri sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu, ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga.
—————
(Sumber : Tempo 16 Maret 1991)

Sabtu, 15 Juni 2013

Habiskan Kesedihan dan Airmata di Dunia



Engkau memiliki air mata yang terbatas.
Jika air matamu tidak tumpah didunia, maka ia akan tumpah di akherat.
Engkau memiliki gudang kesedihan.
Jika engkau habiskan di dunia, maka kesedihan akan terhapus dalam ingatanmu di akherat.
Dan engkau akan besama orang orang yang tidak sedih dalam menghadapi goncangan yang dasyat.
Oleh karena itu, bayarlah harga seluruhnya pada hari ini, karena di sana tidak ada lagi kesempatan tawar menawar.
Habiskan semua air mata dan kesedihan di dunia dengan bekal Dzikrullah…

Bagimana cara berdzikirnya ?
Ibnu Qayyim berkata, “Pada suatu hari aku berkata kepada Ibnu Taimiyah, ada seorang alim yang bertanya, ”Mana yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, tasbih (Subhanallah) atau Istighfar?”
Ibnu Taimiyah menjawab , “Jika baju yang sudah bersih, maka kapur barus dan air bunga mawar lebih bermanfaat baginya; jika baju kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya.’
Kemudian ia berkata kepadaku, “Namun bagaimana dengan baju baju yang selalu kotor?”

Abdullah ibnu Umar berkata, “Aku menangis karena takut kepada Allah lebih aku sukai daripada aku bersedekah seribu dinar.”


Abul Faraj ibn Jauzi berkata,” Setetes air mata dipipi lebih bermanfaat daripada seribu tetes air hujan di bumi.”

Suami Dekil



Tak semua bunga punya keindahan yang sama. Ada bunga yang enak dipandang, enak pula dicium. Harumnya menggiring kita untuk berada lebih dekat. Ada juga bunga yang indah dipandang, tapi tak enak dicium. Keindahannya cuma untuk dari jauh. Lebih tak enak lagi dengan bunga jenis ketiga. Wajahnya suram, baunya…, oh seram!

Pak Budi bersyukur tergolong orang yang bahagia. Selain isteri sholihah, Allah mengaruniainya dengan anak-anak yang taat. Baginya, dua karunia itu sudah merupakan karunia yang teramat besar. Dan itulah inti dari doa seorang muslim. “Ya Allah, karuniakan kami isteri-isteri dan anak-anak yang bisa menjadi penyejuk mata….”

Betapa indahnya hidup ini. Siang malam dikelilingi para pelipur lara. Senyum isteri yang bisa mengubah dunia suram menjadi tenteram. Celoteh dan tingkah polah anak-anak yang membalikkan duka jadi bahagia. Kalau mengingat-ingat itu, lidah Pak Budi selalu tergerak untuk dzikir dan tahmid. “Maha besar Allah dengan segala karunia-Nya yang tak terhingga,” ucap Pak Budi dengan penuh syukur.

Tapi, rasa bahagia Pak Budi pernah juga tergores luka. Sebenarnya, goresan itu kecil buat ukuran umum. Bahkan, nyaris tak terasa. Tapi, buat Pak Budi itu teramat besar. Kalau mengingat itu, Pak Budi jadi malu. Malu sama Allah, isteri, anak, dan dirinya sendiri.

Goresan itu terjadi ketika Pak Budi lupa merubah kebiasaan. Selagi lajang, Budi muda tergolong aktivis yang super sibuk. Aktif di masyarakat, di kampus, dan berbagai organisasi Islam. Pagi pergi, pulang menjelang pagi. Paling cepat, ia pulang jam sebelas malam. Badan letih, pikiran capek, tidur pun jadi pilihan menarik. Jangankan pakai minyak wangi, mandi saja cuma sekali sehari. Itu pun cuma pagi.

Buat suasana aktivis, pemandangan itu memang bisa dianggap biasa. Tapi, gimana kalau yang mengelilingi Pak Budi adalah seorang isteri yang lembut, senang rapi dan cinta bersih. Juga, anak-anak yang butuh teladan. Wah, suasana jadi kurang mesra. Boro-boro tertarik, melihat saja sudah jijik.

Masih segar ingatan Pak Budi ketika pulang malam. Saat itu, ia langsung menghampiri isteri tercintanya. Padahal, bajunya sudah basah kering dengan keringat. Tiba-tiba bau tak sedap menyergap seisi ruangan. Dengan susah payah, isterinya menahan bau yang tak karuan. Bahkan, sempat bersin berkali-kali. Mau bilang khawatir tersinggung. Terus diam, bikin kepala tak karuan. Sayangnya, Pak Budi tak sadar diri.
“Sudah mandi, Mas,” tanya sang isteri tiba-tiba. “Sudah,” jawab Pak Budi spontan. “Kapan?” tanya sang isteri lagi. “Tadi pagi,” jawab Pak Budi ringan.

Pernah juga, dengan tiba-tiba mertua berkunjung. Biasanya, Minggu pagi bisa dimanfaatkan Pak Budi buat tidur lagi. Itu karena malamnya penuh terisi dengan aneka kesibukan: rapat, kunjungan, dan lain-lain. Dengan perasaan tak berdosa, Pak Budi menghampiri tamu kehormatannya dengan mata agak belekan. Rambut ikalnya masih tegak berdiri seperti pemain sepak bola terkenal dari Inggris. “Eh, ada bapak sama ibu. Silakan duduk!” ucap Pak Budi sambil merapikan sarung.

Saat itu, sang isteri cuma bisa bingung. Malu. Mau negur sudah di hadapan. Mau diam bikin perasaan tak karuan. Mungkin isteri Pak Budi cuma bisa kebayang-bayang dengan reaksi ayah ibunya. “Kamu ini. Ngurus suami saja kok tak becus. Gimana kalau ada anak?”

Pak Budi juga tergolong makhluk yang susah rapi. Busana Pak Budi mudah ditebak: kaos, celana katun, dan sandal kulit. Kadang-kadang, cuma sandal jepit. Sebenarnya, Pak Budi punya sepatu. Tapi, itu hanya terpakai saat jadi pengantin. Selebihnya, Pak Budi kembali kepada habitatnya. Apa adanya.

Suatu kali, Pak Budi diajak isteri menghadiri walimahan. Sang isteri minta Pak Budi berdandan. Pak Budi bingung sendiri. Mau pakai baju apa. Pakai batik, nanti mirip birokrat. Pakai jas, bisa dianggap borju. Selain itu, badan bisa terasa panas. Pakai kemeja kurang pas. Pasalnya, hampir-hampir tak pernah Pak Budi memasukkan bajunya kedalam celana panjangnya. Biasanya, sang baju dibiarkan menjuntai melambai-lambai.

Lama Pak Budi merenung di depan lemari. Sekumpulan baju yang nyaris tak pernah tersentuh, hanya bisa terpandang. Sesekali, ia melirik busana seragamnya. Kaos, dan celana katun. Tapi, ia yakin, isterinya pasti tak setuju. Masak ke pesta berbaju ala kadarnya. Jadilah Pak Budi terdiam dalam aneka pilihan.

Selain batik dan kemeja, Pak Budi juga alergi dengan minyak wangi. Terlalu naif buat Pak Budi berminyak wangi. Ia lebih memilih mandi berkali-kali ketimbang harus pakai minyak wangi. Ungkapan penolakan terhadap minyak wangi memang tak bisa tergambar jelas. “Pokoknya, gimana gitu,” ucap Pak Budi suatu kali ke teman dekatnya. “Sepertinya, kok genit amat pake minyak wangi segala. Cengeng,” tambah Pak Budi suatu kali.

Di sisi lain, penampilan Pak Budi kadang bisa menguntungkan. Terutama ketika naik kendaraan umum. Biasanya, copet mengincar mereka-mereka yang tampil necis. Dalam hal ini, Pak Budi diuntungkan. Jangankan mengincar, melirik ke Pak Budi saja, copet-copet sudah pesimis.

Akhirnya, sang isteri tak bisa tahan dalam diam. Suatu hari, isteri Pak Budi berbagi rasa. “Mas ganteng, deh. Apalagi kalau bajunya kemeja, pakai minyak wangi, dan bersisir rapi. Wah, seperti bintang film aja!” ucap sang isteri sambil bercanda. Yang diajak bicara cuma diam. Hanya senyumnya yang mengembang. “Repot, ah!” ucap Pak Budi ringan.

Kesadaran pun muncul ketika pasangan suami isteri itu dikaruniai Allah seorang puteri. Saat puteri Pak Budi pulang dari sekolah TK, Pak Budi mau berangkat keluar. Mereka saling berpapasan. “Lho, Ayah mau kemana?” tanya si anak. “Kerja!” jawab Pak Budi singkat. “Tapi, kok rambutnya masih acak-acakan,” komentar sang anak spontan. “Emangnya kenapa?” tanya sang ayah. “Malu, dong!” protes si kecil tajam. “Malu ama siapa?” tanya Pak Budi lagi. “Ya, sama Rasulullah! Nabi Muhammad itu selalu rapi. Tau!” bentak si kecil enteng.

Kontan saja, ucapan si kecil bikin Pak Budi mikir berkali-kali. Aih, benarkah? Suara hati Pak Budi bertanya dalam. Benarkah Rasulullah yang tak pernah sedetik pun waktu luangnya terlewatkan tanpa pergerakan selalu tampil rapi?

Pak Budi merenung sejenak. Saat itu juga, ia kembali masuk ke rumah. Diambilnya sebuah buku. Buku itu berjudul ‘Akhlak Nabi’. Lambat Pak Budi membuka helai demi helai halaman buku. Dan…. “Benar. Anakku memang benar!” suara Pak Budi perlahan.

Mata Pak Budi masih tertuju pada halaman buku yang berisi sebuah hadits Rasulullah saw. Artinya, “Sesungguhnya, kamu akan bertemu dengan saudara-saudara kamu. Rapikanlah busana kamu. Dan bersihkanlah kendaraanmu. Sesungguhnya Allah swt. tidak suka dengan hamba yang jorok, lagi dekil.”

Sejak itu, Pak Budi berubah perlahan tapi pasti. Ia mulai pakai kemeja. Sesekali dengan minyak wangi. Cuma jas yang masih belum ia terima. Entah kenapa, seleranya belum nyambung dengan busana yang satu ini. Tapi, itulah Pak Budi.


Ah, bahagianya jadi bunga. Enak dipandang, nyaman didekati. Lagian, bagaimana mungkin bisa merubah masyarakat kalau mereka tak mau mendekat. Itu namanya sulap. Bukan sulap, bukan sihir. Orang khilaf, kurang zikir. (nh) / http://www.eramuslim.com/